Kelinci dan Bulan

Dramatisasai (Editor): Yume No Hashi



Cerita ini kunoberasal dari  Negara yang bernama Tenjiku

Pada suatu hari,
gosip dari dunia ini sampai ke telinga Dewa di langit.

Dewa: "ada apa, ada apa?"
Hiduplah tiga sekawan: kera, kelinci, rubah yang bersahabat sangat akrab lebih dari bersaudara.
"Sesama manusia saja berkelahi melulu, sungguh hal yang sangat mengagumkan. Mana, coba saya beri satu pencobaan"
Setelah berkata begitu, Sang Dewa berubah wujud menjadi fakir miskin lalu turun ke bumi.



Sang Dewa yang telah berubah wujud menjadi fakir miskin, duduk di batu dengan berpura-pura dalam kesusahan.
Lalu, datanglah tiga sahabat  karib, kera, kelinci dan rubah.
Sang Dewa berkata:
"Saya sudah beberapa hari tidak makan, sekarangpun hampir mati.
Tolonglah, selamatkan saya orang melarat ini."

 

Mendengar permintaan orang miskin itu,
Si Kera,
Kera naik ke atas pohon dan memetik buah-buahan. Lalu berkata" silahkan makan buah-buahan ini.

Si Rubah,
Rubah pergi menangkap ikan ke sungai. Lalu berkata "silahkan makan ikan ini" mereka memberi makanan kepada orang miskin tersebut.
Sang Dewa,
Dewa yang menyamar sebagai orang miskin itu berkata dengan gembira "berkat kalian berdua jiwa saya tertolong".

Sebaliknya,
Si kelinci hanya meloncat kian kemari tanpa berbuat sesuatu.



Lalu Sang Dewa Berkata kepada kelinci:
"Apakah kamu juga tidak memberikan sesuatu kepada saya yang melarat ini?"

Si kelinci,
"Ya, saya juga ingin berbuat sesuatu tetapi saya tidak memiliki kepandaian seperti kera dan rubah. Saat itu kelinci sepertinya teringat sesuatu.
Kelinci
Si kelinci berkata" kara, tolong kumpulkan kayu bakar dan nyalakan api.



Si kelinci
Kelinci berkata "Kakek Pengembara, saya tidak memiliki fungsi dan kepandaian apapun jadi tidak bisa memberikan apa-apa. Setidaknya, makanlah bakaran daging saya".
Seraya berkata begitu,
 Apa yang terjadi!?
Si kelinci melompat ke dalam api yang sedang menyala-nyala.



Sang Dewa

Dewa: "a apa yang terjadi........ kelinci telah melakukan hal yang sangat menyedihkan....... kasihan sekali.
Mana mungkin, saya bisa makan daging kelinci yang berhati mulia seperti ini."
Sambil berkata demikian Sang Dewa memeluk tubuh kelinci yang terbakar lalu menangis tiada henti.



Kemudian Sang Dewa kembali ke Khayangan,
lalu memasukkan kelinci sebagai peringatan dalam perayaan di istana bulan.
Demikianlah kelinci kelihatan dalam bulan, rupanya berasal dari cerita ini.

=Sekian=